Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Deklarasi, Mega-Prabowo Terima Keluhan Wong Cilik

BEKASI - Dalam deklarasi capres-cawapres Mega-Prabowo di TPA Bantar Gerbang, Bekasi, para rakyat kecil yang seringkali disebut Wong Cilik seperti mendapatkan kesempatang untuk berkeluh kesah. Kepada Mega-Prabowo, beberapa perwakilan dari wong cilik didaulat naik panggung untuk menyampaikan keluhannya.

Pantauan okezone, setidaknya lima orang wong cilik di hadapan Mega-Prabowo menyampaikan keluhannya, selain menyampaikan dukungannya terhadap pasangan dari PDIP dan Gerindra tersebut.

Surya, pemulung dari Tegal, dalam diberi kesempatan pertama menyampaikan uneg-unegnya, hanya berujar singkat. Surya meminta jika kedua tokoh tersebut menjadi pemimpin negeri, tidak lupa dan terus mendukungnya rakyat kecil.

Edo, nelayan dari Subang, dengan lugu menyampaikan dukungannya pada Mega-Prabowo. Menurutnya jika keduanya menjadi terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, dirinya tidak akan takut lagi melaut.

Sementara Arnas, seorang pedangan asongan, memprotes dengan kenaikan harga rokok yang menjadi barang jualannya. Kenaikan harga rokok yang terus menerus membuat keuntungannya berjualan semakin berkurang. Selain itu, Arnas juga mengeluhkan ulah petugas tramtib.

"Kami pedagang kecil kok sering diusir tramtib. Bantu kami lindungi rakyat kecil, dan turunkan sembako," keluhnya.

Teakhir, perwakilan dari buruh, Sulistyawati, dengan lugu mengungkapkan perasaannya secara terbuka jika dirinya tidak percaya bisa berhadapan langsung dengan Megawati. Sontak hal ini membuat massa yang ada di sekitarnya dan beberapa pengurus yang berada di atas panggung tersenyum termasuk Mega dan Prabowo.

Dengan membacakan teks yang dibawanya, Sulityawati meminta dengan tegas adanya perbaikan atas Undang-undang Ketenagakerjaan."Saya minta ditinjau ulang Undang-undang Ketenagakerjaan. Karena banyak perusahaan yang kolaps dan mem-PHK karyawannya," ungkapnya.

Sayangnya, keluhan-keluhan wong cilik ini tidak bisa ditanggapi oleh pasangan Mega-Prabowo. Keduanya hanya menerima keluhan, dan tidak memberikan jawaban satu kata pun.

Deklarasi Mega-Prabowo, 60 Orang Pingsan

BEKASI - Setidaknya 60 orang simpatisan Mega-Prabowo yang tadi menghadiri deklarasi terpaksa digotong ke posko kesehatan, karena ditemukan pingsan di tengah-tengah padatnya massa.

Keenampuluh orang tersebut diselamatkan dari beberapa tempat berbeda di tengah-tengah massa, saat acara tengah berlangsung. Beruntung puluhan simpatisan tersebut tidak terinjak-injak oleh massa lainnya.

Koordinator Posko Kesehatan, Alfian Feoh, menuturkan pingsannya para simpatisan ini dikarenakan padatnya massa membuat mereka sedikit mendapatkan udara untuk bernapas. Namun tidak ada satupun dari mereka yang dilarikan ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

"Tidak ada yang dirujuk. Mereka hanya butuh pertolongan pertama, dan udara," jelas Alfian, Minggu (24/5/2009).

Penanganan kesehatan yang disediakan pihak panitia lebih dari cukup bagi puluhan simpatisan yang pingsan tersebut. Selain posko kesehatan, tampak beberapa kendaraan kesehatan yang dimiliki PDIP.

Megawati Janji Tak Privatisasi Aset Negara


JAKARTA - Calon presiden Megawati Soekarnoputri berjanji tidak akan mengambil kebijakan privatisasi terhadap aset-aset negara, untuk mengatasi likuiditas keuangan.

Kendati demikian dia mengakui ada privatisasi aset negara pada masa dia menjabat. Namun menurutnya, hal itu sudah ada semenjak pemerintahan sebelumnya. Mega menyatakan masa pemerintahan dia berlangsung sangat singkat, sehingga privatisasi yang sudah dalam proses tidak bisa dihentikan.

Mengenai kontrak-kontrak yang merugikan negara, menurut dia, tidak bisa diubah begitu saja. "Kita akan terkena arbitrase internasional bila tidak segera menyelesaikan sengketa, dan saya mencoba melakukan (menyelesaikan) itu," kata Mega dalam dialog dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin), di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (22/5/2009).

Sementara itu, calon wakil presiden Prabowo Subianto mengaku tidak akan menargetkan agenda 100 hari kerja. Menurutnya, pemerintahan diamanatkan untuk menjalankan tugas selama lima tahun, bukan 100 hari.

"100 hari pemerintahan itu bukan menjadi tolak ukur dan tidak bermanfaat," ujarnya.

SBY & Mega Diprediksi "Tenggelam" di 2014

JAKARTA - Ungkapan dalam bahasa Padang "Lala Rui Sanjo" yang berarti senja akan tenggelam, tampaknya bakal dialami tokoh nasional seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Gus Dur di kancah perpolitikan tanah air pada 2014 mendatang.

"Kalau enggak hari ini, mereka enggak akan dapat kapal lagi," ujar Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti dalam diskusi ?Menggugat Absennya Etika Politik' di Omah Sendok, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2009).

Kondisi ini, lanjut Ray, antara lain disebabkan oleh menipisnya etika politik para elit. "Politik kita ini seperti, hari A terus jadi B, terus tiba-tiba jadi C atau seperti tahu tempe dan tempe tahu. Seperti itu selalu dalam hitungan hari," imbuhnya

Yang menarik, kata dia, "penyakit" ini kemungkinan bakal menular pada generasi baru. Mereka akan terbiasa melakukan praktik politik yang seperti sekarang," ungkapnya. 

Aktivis Kontras Edwin Partogi menyebut kondisi ini sebagai paradok reformasi dari bentuk kekuasaan orde baru. 

"Kita melihat selama 11 tahun ini, kekuatan rezim orde baru tetap merajai Pilpres. Banyak aksi seperti demonstrasi, semuanya hanya menguap di media massa dan tidak menjadi bahan bagi elit untuk melakukan sesuatu," timpalnya.

KPU Nyatakan Capres-Cawapres Lolos Tes Kesehatan

JAKARTA - Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya mengumumkan hasil tes kesehatan jasmani dan rohani tiga pasangan capres yang dilakukan pada hari Minggu dan Senin kemarin.

Hasilnya ketiga pasangan capres dan cawapres yang akan bertarung pada 8 Juli mendatang dinyatakan memenuhi syarat kesehatan. 

"Setelah kami baca satu per satu (hasil tes kesehatan), alhamdulillah ketiga pasangan mempunyai kemampuan kesehatan jasmani dan rohani untuk melaksanakan tugas kenegaraan dan kami nyatakan memenuhi syarat," ujar Koordinator Pokja Pilpres KPU Syamsul Bahri dalam konpres di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2009).

Dengan demikian maka ketiga pasangan capres dan cawapres yaitu Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Megawati Soekarnoputri-Prabowo, dan Jusuf Kalla-Wiranto dinyatakan bisa terus mengikuti tahapan pertarungan Pilpres 2009. 

KPU hanya mengumumkan perihal kondisi umum kesehatan capres dan cawapres. Sesuai kode etik, KPU tidak akan merinci hasil tes tersebut.

Prabowo Tinggalkan Mega di RSPAD

JAKARTA - Berbeda saat tiba di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, calon presiden dan calon wakil presiden dari PDIP-Partai Gerindra Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto berpisah saat meninggalkan rumah sakit.

Prabowo terlihat lebih dulu meninggalkan RSPAD dengan mobil Lexus hitam bernopol B 1007 PR. Sementara Megawati masih berada di dalam gedung tempat pemeriksaan kesehatan capres-cawapres.

"Semoga tidak mengganggu, tidak jadi kendala," kata Prabowo saat ditanya perihal flu yang menyerangnya, Minggu (17/5/2009).

Seperti diketahui, dua pasang capres dan cawapres hari ini menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai syarat penjaringan capres-cawapres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Jusuf Kalla-Wiranto datang lebih dulu sekira pukul 7.30 WIB dan disusul pasangan Mega Pro Rakyat. Sedangkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono akan melaksanakan pemeriksaan pada Senin 18 Mei 2009. 

PDIP Temui Prabowo, Puan Jawab Hasilnya Positif

JAKARTA - Megawati dan sejumlah petinggi PDIP kembali mengadakan pertemuan dengan Prabowo Subianto. Namun hasil pertemuan yang digelar di Hotel Continental Mid Plaza, Jakarta Rabu sore ini nampaknya masih belum signifikan.Ketua DPP PDIP Puan Maharani mengatakan sampai saat ini belum ada keputusan final bagi PDIP dalam menghadapi pemilihan presiden Juli nanti. PDIP masih mengusung calon Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden."Komunikasi politik harus tetap dibuka, bahwa apapun itu yang memutuskan Ketua Umum, Ibu Mega. Sikap PDIP sampai saat ini calon presiden Ibu Megawati," ujar Puan ditemui di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Rabu (13/5/2009).PDIP masih terus melakukan penjajakan hingga deklarasi pada 16 Mei mendatang di mana deklarasi pencalonan presiden dan wakil presiden dari PDIP dibacakan Megawati. Namun Puan menyatakan ada kemajuan dari komunikasi politik yang dijalin dengan Gerindra. "Oke, ada kemajuan apapun itu demi kemajuan dan keutuhan bangsa. Pertemuan hasilnya positif," jawabnya diplomatis.Apakah Pak Prabowo bersedia jadi cawapres? Itu nanti, sebelum deklarasi kita umumkan," kilahnya.Di bagian lain, PDIP juga masih melakukan komunikasi politik dengan partai lain termasuk Partai Demokrat, jadi semua kemungkinan koalisi masih terbuka."Komunikasi politik harus dibuka terus karena tidak boleh hanya terpaku pada satu partai politik, kita harus menjalin hubungan dengan semua partai, " jelasnya.

PDIP Hargai Gertak Sambal Mitra Koalisi SBY

JAKARTA - Partai Demokrasi Indoneis Perjuangan (PDIP) dianggap menjadi orang ketiga penyebab kisruhnya rumah tangga Partai Demokrat dengan mitra koalisinya. Menanggapi hal ini, PDIP mengaku menghargai keputusan empat partai mita koalisi Demokrat ini.

"Kita saling menghargai partai politik. Saya kira itu masalah masing-masing partai (peserta ) dengan Demokrat," ujar Ketua DPP PDIP Tjahjo Kumolo kepada wartawan di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Rabu (13/5/2009).

Tajhjo menegaskan, partainya tidak ada kaitannya dengan pilihan hati Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang jatuh kepada Gubernur Bank Indonesia Boediono itu. 

"Kami tidak masuk dalam permasalaahan yang ada antara partai-partai politik," tegas Tjahjo.

Sebelumnya, PDIP dituding sebagai biang kerok penyebab keretakan koalisi SBY dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 

Keempatnya mengancam akan "membelot" jika SBY tetap memilih Boediono sebagai calon pendampingnya pada Pilpres 8 Juli mendatang. Boediono dianggap titipan pihak tertentu, termasuk PDIP.

JK Tak Khawatir PDIP Merapat ke Demokrat


JAKARTA - Sejumlah kalangan memprediksi kedatangan Jusuf Kalla-Wiranto ke rumah Megawati Soekarnoputri, sebagai bentuk ketakutan JK atas rumor koalisi yang akan dibangun PDIP dengan partai Demokrat. Hal itu pun dibantah tegas JK. 

"Enggak (khawatir). Sama sekali tidak," tegas JK usai menggelar pertemuan tertutup dengan Megawati, di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Jumat (8/5/2009). 

Kedatangan rombongan JK ke rumah Mega, lanjutnya, hanya melanjutkan pembicaraan soal keutuhan koalisi besar yang telah dibangun. 

"Kita siap membantu dan bekerja sama dalam kondisi apapun. Kita berpacu dengan waktu. Tapi komunikasi tetap dilanjutkan dan koalisi di parlemen berjalan terus," jelasnya.

Apakah kedatangannya terkait dengan kunjungan Hatta Rajasa Rabu lalu? "Kami selalu mengadakan pertemuan intensif dengan PDIP, jadi tidak ada hubungannya," pungkasnya.

Sebelumnya, beredar kabar bahwa kedatangan JK-Win diduga terkait dengan sikap PDIP yang mulai melunak, bahkan memberikan sinyal koalisi antara partai pemerintah dan oposisi ini. 

JK pun diprediksi memberikan dukungan moril kepada Ketua Umum PDIP ini, untuk tetap maju sebagai capres 2009, agar kemungkinan pilpres berlangsung dua putaran bisa terjadi. Intinya, JK ketakutan, PDIP jatuh ke pangkuan Demokrat dengan iming-iming "jatah" kekuasan.

Besok PDIP Tegaskan Sikap Koalisi

JAKARTA - Tak kunjung mendapat respons dari Gerindra, membuat PDI Perjuangan sedikit "galak". Partai ranking tiga di Pileg ini pun akan rapat untuk menentukan sikap tegas arah koalisi di Pilpres."Besok PDI Perjuangan akan menentukan sikap," kata Sekjen PDI Perjuangan, Pramono Anung, di Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2009).Namun, Pram menegaskan, penegasan sikap itu akan dibahas di dalam rapat yang akan digelar besok di Jalan Teuku Umar. "Soal capres atau cawapres, kita memberikan kewenangan kepada Ibu Mega," jelasnya.Karena itu, dalam rapat besok tergantung kepada Ibu Mega apakah akan memberikan pengumuman cawapres kepada publik.dia bilang besok PDIP akan menentukan sikap dan posisi ada rapat khusus membahas bagaimana posisi politik PDI P bukan mengumumkan capres dan cawapres. Ini keputusan final apa yang diputuskan dalam rakernas. kita memberikan kewenangan kepada Ibu mega. dalam rapat besok tergantung Mega kapan beliau memberikan pengumuman cawapres kepada publik. (ahm)

Pendamping Mega Tunggu Putusan Rapimnas Gerindra


JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih menunggu hasil Rapimnas Partai Gerindra untuk menentukan siapa cawapres Megawati Soekarnoputri pada Pemilu Presiden 8 Juli 2009.

"Selain itu, PDIP masih menunggu hasil tabulasi KPU," ujar Ketua DPP PDIP Tjahyo Kumolo di kediaman Megawati, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Selasa, (5/5/2009).

Jika PDIP memperoleh 120 kursi di DPR, lanjut Tjahjo, Partai berlambang banteng bermoncong putih itu akan mengajukan capres sendiri.

"Tapi tetap harus dapat tambahan dari Gerindra dan ditambah partai lain," kata pria yang masih menjabat Ketua FPDIP itu.

Sampai saat ini, kata dia, PDIP masih berpegang teguh pada hasil Rakernas PDIP yang mengusung Megawati sebagai capres. "Dan sekarang sudah hampir final. Jadi apapun yang diputuskan Ibu Mega sudah ada dasar hukum yang kuat,"terangnya.

Sebelumnya, Sekjen PDIP Pramono Anung memastikan PDIP akan mengumumkan nama capres dan cawapres pada 7 Mei mendatang. Jika sudah dideklarasikan, ada dua capres yang siap maju di pilpres yakni Jusuf Kalla dan Megawati. (ahm)

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme